METODE PEMBELAJARAN SOSIODRAMA & SIMULASI


METODE PEMBELAJARAN PAI
 METODE SOSIODRAMA dan SIMULASI
Dosen Pengampu : Hairiyah, S.Pd.I,. M.S.I.


Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran PAI
Di susun oleh :
Arif Faisal Fathin        161100265
Dede Siti Nurhajizah  161100294
Hasanudin Alim          161100300
Lilis Setyowati            161100306
Muhammad Wahyu    161100317
Tofik Himawan           151100274

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVRSITAS ALMA ATA
YOGYAKARTA
2018

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan limpahan nikmatNya kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Metode Pembelajaran PAI dengan judul “Metode Sosiodrama dan Simulasi”.
Tentunya dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, sehingga penulis, sadar akan pentingnya kritik dan saran dari pembaca untuk dijadikan koreksi terhadap makalah ini dan sekaligus juga untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik untuk kedepannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Bila ada kesalahan dan kekurangan dalam penyampain dan penulisan penulis mohon maaf.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb. 
Yogyakarta, Oktober 2018

Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam setiap pembelajaran di sekolah maupun di lembaga pendidikan sangat memerlukan yang namanya metode pembelajaran untuk kelancaran proses pembelajaran. Disini salah satu metode yang digunakan adalah metode sosiodrama dan metode simulasi. Metode sosiodrama merupakan jenis dari simulasi yang merupakan suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan atau mempertontonkan atau mendemontrasikan cara tingkah laku dalam hubungan sosial.
Adapun simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.
Dalam menggunakan metode simulasi ini di perlukan keaktifan sisiwa dalam kelas karena dilihat dari jenis-jenis metode simulasi yang salah satunya adalah bermain peran dan dilihat dari karakteristik metode simulasi yang banyak melibatkan aktivitas siswa itulah mengapa metode simulasi ini dikatakan sangat memerlukan keaktifan sisiwa.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengertian metode simulasi, jenis-jenis metode simulasi, karakteristik metode simulasi, tujuan metode simulasi, kelebihan dan kekurangan metode simulasi serta langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam melakasanakan metode simulasi.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian metode sosiodrama ?
2.      Bagaimana langkah-langkah penyajian metode sosiodrama ?
3.      Apa saja kelebihan dan kekurangan metode sosiodrama ?
4.      Apa pengertian metode simulasi ?
5.      Bagaimana langkah-langkah metode simulasi ?
6.      Apa saja kelebihan dan kekurangan metode simulasi ?
7.      Apa saja jenis-jenis metode simulasi ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Metode Sosiodrama
      Menurut Tukiran, “Sosiodrama (role playing) berasal dari kata sosio dan drama. Sosio berarti social menunjuk pada objeknya yaitu masyarakat menunjukkan, mempertontonkan atau memperlihatkan”. [1]
      Menurut S. Sagala, “Metode sosiodrama berarti cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukan dan mempertontonkan atau mendramatisasikan cara tingkah laku dalam hubungan social”.[2]
Metode sosiodrama dan role playing dapat dikatakan sama artinya, dan dalam pemakaiannya sering disilihgantikan. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial.[3]
Tujuan yang diharapkan dengan metode sosiodrama antara lain ialah:
1.      Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain.
2.      Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab.
3.      Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan.
4.      Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah.[4]

B.     Langkah-Langkah Metode Sosiodrama
Menurut Syaiful Bahri, langkah-langkah metode sosiodara
sebegai berikut:
1.      Tetapkan dahulu masalah-masalah sosial yang menarik perhatian siswa untuk dibahas.
2.      Ceritakan kepada siswa mengenai isi atau maksud yang terkandung dalam maslaah tersebut.
3.      Tetapkan siswa yang bersedia bermain peran didepan kelas
4.      Menjelaskan kepada pendengar mengenai peranan mereka
5.      Memberi kesempatan kepada pemain untuk melakukan persiapan
6.      Akhiri sosiodrama pada waktu pembicaraan mencapai ketegangan
7.      Akhiri sosiodrama dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah persoalan yang ada pada sosiodrama tersebut, dan
8.      Menilai hasil sosiodrama tersebut sebagai bahan pertimbangan lebih lanjut.[5]

C.    Kelebihan dan Kekurangan Metode Sosiodrama
Kelebihan metode sosiodrama, antara lain:
1.      Siswa terlatih untuk mendramatisasikan sesuatu dan juga melatih keberanian mereka
2.      Kelas akan menjadi hidup karena menarik perhatian para siswa
3.      Siswa dapat menghayati sesuatu peristiwa sehingga mudah mengambil suatu kesimpulan berdasarkan penghayatanya sendiri
4.      Siswa dilatih dalam menyusun sebuah pikiran secara teratur.

Kelemahan metode sosiodrama, antara lain.
1.      Banyak menyita waktu atau jam pelajaran
2.      Memerlukan persiapan yang teliti dan matang
3.      Kadang-kadang siswa berkebaratan untuk melakukan peranan yang diberikan karena alasan psikologis, seperti rasa malu, peran yang diberikan kurang cocok dengan minatnya, dan sebagainya
4.      Bila dramatisasi gagal, siswa tidak dapat mengambil suatu kesimpulan[6]

D.    Pengertian Metode Pembelajaran Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura –pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Belajar bagaimana cara mengoperasikan sebuah mesin yang mempunyai karakteristik khusus misalnya, siswa sebelum menggunakan mesin  yang sebenarnya akan lebih bagus melalui simulasi terlebih dahulu. Demikian juga untuk mengembangkan pemahaman dan penghayatan terhadasp suatu peristiwa, penggunaan simulasi akan sangat bermanfaat.[7]  

E.     Langklah-langkah Simulasi
1.      Persiapan Simulasi
a.       Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai oleh simulasi.
b.      Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimulasikan.
c.       Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi, peranan yang harus dimainkan oleh para pemeran, serta waktu yang disediakan.
d.      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khususnya pada siswa yang terlibat dalam pemeranan simulasi.
2.      Pelaksanaan Simulasi
a.       Simulasi mulai dimainkan oleh kelompok pemeran.
b.      Para siswa lainnya mengikuti dengan penuh perhatian.
c.       Guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat kesulitan.
d.      Simulasi hendaknya dihentikan pada saat puncak. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong siswa berfikir dalam menyelesaikan masalah yang sedang disimulasikan.
3.      Penutup
a.       Melakukan diskusi baik tentang jalannya simulasi maupun materi cerita yang disimulasikan. Guru harus mendorong agar siswa dapat memberikan kritik dan tanggapan terhadap proses pelaksanaan simulasi.
b.      Merumuskan kesimpulan.[8]

F.     Kelebihan dan Kelemahan Metode Simulasi
Terdapat beberapa kelebihan dengan menggunakan simulasi sebagai metode mengajar, diantaranya:
1.      Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi sebenarnya, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun menghadapi dunia kerja.
2.      Simulasi dapat mengembangkan kreatifitas siswa, karena melalui simulasi siswa diberikan kesempatan untuk mempermainkan peranan sesuai dengan topik yang disimulasikan.
3.      Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.
4.      Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.
5.      Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran.

Adapun kelemahan metode simulasi diantaranya:
1.      Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan nkenyataan di lapangan.
2.      Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai alat hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
3.      Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering mempengaruhi siswa dalam melakukan simulasi.[9]

G.    Jenis-jenis Simulasi
Simulasi terdiri dari beberapa jenis, di antaranya:
1.      Sosiodrama
      Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter, dasn lain sebagainya. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuann siswa untuk memecahkannya.
2.      Psikodrama
      Psikodrama adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan psikologis. Psikodrama biasanya digunakan untuk terapi, yaitu agar siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya serta menyatakan reaksi terhadap tekanan-tekanan yang dialaminya.
3.      Role playing
      Role playing atau bermain peran merupakan bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang akan muncul pada masa mendatang. Topik yang dapat diangkat untuk role playing misalnya mengenai kejadian seputar pemberontakan G 30 S/PKI, memainkan peran sebagai juru kampanye suatu partai atau gambaran keadaan yang mungkin muncul pada abad tekhnologi informasi.[10]





















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Menurut Tukiran, “Sosiodrama (role playing) berasal dari kata sosio dan drama. Sosio berarti social menunjuk pada objeknya yaitu masyarakat menunjukkan, mempertontonkan atau memperlihatkan.
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura –pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya.
Adapun metode simulasi mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: (1) persiapan simulasi, (2) pelaksanaan simulasi, dan (3) penutup. Simulasi juga mempunyai jenis-jenis, antara lain: (1) sosiodram, (2) psikodrama, dan (3) role playing.




















DAFTAR PUSTAKA

Basyirudin Usman. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta : Ciputat Press.
Nana Sudjana. 2010. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
S. Sagala. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung : Alfabeta.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Tukiran Taniredja. 2013. Model-model Pembelajaran Inovatif dan Efektif. Bandung : Alfabeta.
Wina Sanjaya. 2011. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media.


[1]Tukiran Taniredja, Model-model Pembelajaran Inovatif dan Efektif, (Bandung: Alfabeta, 2013) hlm. 39
[2] S Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan Problematika
Belajar dan Mengajar, (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 213
[3]Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010) hlm. 84
[4] Ibid., hlm. 85
[5] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2010), hlm. 89
[6] Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002),
hlm. 51-52



[7] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011. Hlm. 159-160
[8] Ibid., hlm. 161-162
[9] Ibid., hlm. 160
[10] Ibid., hlm. 160-161

Postingan populer

PSIKOLOGI AGAMA "KEPRIBADIAN dan SIKAP KEBERAGAMAAN"

METODE KERJA KELOMPOK PADA PEMBELAJARAN PAI

Penyelenggaraan Rapat di Sekolah